Tradisi Tolak Bala Di Banyuangi Berujung Puluhan Warga Kesurupan

Ofbyandfor.org – Puluhan warga yang berada di Desa Aliyan Kecamatan Rogojampi tiba-tiba bersikap aneh lantaran mencari tempat berkubang dengan tujuan ingin berendam seperti kerbau. Diduga keras puluhan warga tersebut kesurupan secara massal.

Kejadian tersebut terjadi pada saat sedang melaksanakan suatu ritual yang digelar warga setempat, dalam bersih desa ‘Keboan’. puluhan warga tersebut diduga telah kerasukan roh halus sehingga bersikap seperti kerbau yang mencari kubangan air untuk mereka berendam.

Tradisi yang menjadi rutinan warga tersebut dilakukan dengan tujuan untuk tradisi tolak balak dan bentuk ucapan syukur masyarakat, atas melimpahknya hasil panen. Acara yang diawali di empat tempat dalam penjuru desa, dang dilanjutkan dengan ider bumi. Para petani yang didandani kerbau lalu berkeliling desa mengikuti empat penjuru mata angin.

Saat berkeliling desa inilah, para ‘kerbau’ itu melakukan ritual layaknya siklus bercocok tanam, mulai dari membajak sawah, mengairi, hingga menabur benih padi. Kerbau jadi-jadian ini dikawal oleh beberapa orang. Mereka terpaksa diikat dengan tali, agar tidak liar mengejar pengunjung. Mereka kemudian berjubang lumpur ditengah sawah yang sudah dipersiapkan. Sesekali, mereka disiram oleh para pengawal kerbau tersebut.

“Biasanya yang mengawal itu adalah kerabat dari orang yang menjadi kerbau. Mereka khawatir karena sang kerbau itu tidak sadar alias kerasukan. Disiram diwajahnya agar matanya tidak kemasukan tanah,” ujar Budianto, Ketua Panitia Keboan 2017, Minggu (24/9/2017).

Di Desa Aliyan, tambah Budianto, dua dusun secara turun temurun mempertahankan tradisi Kebo-keboan. Yakni di Dusun Aliyan dan Dusun Sukodono. Meski proses ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, namun kedua dusun ini tidak bisa melakukan prosesi secara bersamaan. Sebab jika kebo-keboan di dua desa ini saling bertemu maka akan saling serang.

“Dari zaman dulu sudah seperti itu. Makanya pelaksanaan ritual di bedakan waktunya dan jalur ider bumi yang dilewati oleh kebo-keboan juga berbeda,” imbuh Budianto.

Kerbau disimbolkan sebagai mitra petani di sawah untuk menghalau malapetaka selama musim tanam hingga panen. “Keboan sejak lama telah menjadi bagian dari hidup dan kehidupan masyarakat lokal Banyuwangi. Kerbau bukan ternak pada umumnya yang dikonsumsi dagingnya. Tapi kerbau adalah mitra petani untuk menggarap sawah dan berupaya mendapatkan kemakmuran,” tandasnya.

Sementara Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi Keboan sejak tahun 2014 ini telah masuk dalam agenda Banyuwangi Festival, agenda pariwisata daerah yang berisi beragam acara wisata. Dengan cara ini, Pemkab Banyuwangi terus bisa mengawal pelestarian budaya dan tradisi masyarakat, agar dikenal dan menjadi penarik wisata yang ingin datang ke Banyuwangi.

“Tradisi semacam tak boleh lekang dengan perkembangan jaman. Selain sebagai warisan budaya leluhur kita, ini juga sebagai salah satu cara warga desa bisa guyub, warga bisa saling gotong royong,” kata Anas.

Sekedar diketahui, tradisi kebo-keboan di Banyuwangi berkembang di dua desa. Selain keboan di Desa Aliyan Rogojampi, tradisi keo-keboan juga ditemui di Desa Alasmalang, Singojuruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *